Resume 18 ( Senin 27 Juni 2022)
Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie
Oleh : Adnan Adam
Pelatihan Belajar Menulis Senin 27
Juni 2022 kali ini kembali lagi membahas tetang menerbitkan buku di penerbit
indie. Bapak Raimundus Brian Prasetiawan, S Pd sebagai narasumber didampingi
oleh Ibu Mutmainah sebagai moderator menuliskan materinya melalui chat Whatsapp
Belajar Menulis 25-26 sebagai berikut :
Assalamulaikum warahmatullahi wa
barakatuh., Salam sejahtera untuk kita semua. Selamat malam Bapak/Ibu hebat
Indonesia yang tergabung dalam kelas Belajar Menulis Gelombang 25 dan 26. Di
malam putaran ke 18 kembali Mutmainah akan menemani sahabat nusantara di kelas
Menulis tanpa sekat dan batas.Semoga semangat kita tetap menyala untuk terus
berkarya. Semoga niat tetap terjaga
untuk menambah ilmu dari narasumber yamg luar biasa. Semangat. Kuliah
malam ini seperti biasa dibagi menjadi 4 sesi : 1). Pembukaan, 2). Penjabaran
Materi, 3). Sesi Tanya Jawab, 4). Penutup. Bagi yang ingin bertanya silakan
japri ke 085216628447
Oiya.. Sebelum kita mulai masuk
kelas, jangan lupa ketikkan jemari untuk mengisi presensinya dulu di link
berikut: https://bit.ly/3DbBNh6.
Penulis tidak pernah dilahirkan tetapi
diciptakan, bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir tetapi tumbuh oleh
satu motivasi dan gagasan. Allow yourself
to be a beginner. No one starts off being excellent.” Biarkan dirimu
menjadi seorang pemula. Tidak ada yang baru memulai menjadi luar biasa. If you
want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and
write a lot. ” Jika kamu ingin menjadi seorang penulis, kamu harus
melakukan dua hal banyak membaca dan banyak menulis.
Menulis dan membaca merupakan
kesatuan yang tidak terpisahkan, amunisi seorang penulis adalah bacaannya.
Tidak semangat menulis bisa jadi karena kurang membaca jika membaca sudah
dilakukan tetapi masih saja sulit menulis cobalah terus. Baiklah, agar kita
semakin mengenal narsum kita yang
LUAR BIASA... kita baca dulu yuk CV
Beliau. Saya beri waktu 3 menit untuk membaca yaaa... Monggo....
Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd . Lahir
di Jakarta, 30 Juni 1992. Kini tinggal di Bekasi dan berprofesi sebagai guru SD
di Jakarta. Memulai aktivitas menulis ketika blog pertamanya (www.praszetyawan.com)
dibuat pada 2009. Profilnya pernah dimuat dalam buku berjudul "Majors For The Future". Puluhan
tulisannya sudah dimuat di berbagai media cetak. Sebagian besar dimuat di Tabloid Bola, Harian Bola, Tabloid Soccer.
Penulis 3 buku solo dan 14 buku antologi, juga aktif di berbagai pelatihan kelas menulis sebagai Narasumber.
Ketua Komunitas Cakrawala Blogger Guru Nasional. Relawan Pengurus Pelatihan
Belajar Menulis PGRI.
Sejak tahun 2020, telah membuat pelatihan
kelas dasar blogspot bagi guru-guru se-Indonesia. Sampai saat ini sudah
dilaksanakan 5 angkatan. Semua orang
akan mati, terkecuali karyanya. Maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan
dirimu di akhirat kelak”- Ali bin Abi Thalib Malam ini bapak ibu memasuki
pertemuan ke-18. Artinya, tinggal 2
pertemuan lagi semua peserta sudah boleh
menyusun naskah resume untuk dijadikan buku solo hasil pelatihan. Ditambah 10
pertemuan motivasi sebagai penguatan.
Seperti yang kita ketahui buku merupakan muara
akhir dari sebuah proses penulisan. Hasil tulisan kita tentu saja ingin
bermuara menjadi sebuah buku, tetapi masih bingung kemana buku harus
diterbitkan? Apa saja yang menjadi
syarat penerbitan buku? Salah satu syarat lulus pelatihan ini adalah
menerbitkan buku solo. penerbit indie menjadi solusi karena kemudahan dalam
menerbitkan buku. Namun juga harus memahami bagaimana ketentuan dan cara
menerbitkan buku di penerbit indie.
Kuliah malam ini akan narasumber
kupas tuntas sampai ke akar akarnya. Naah
mari kita simak bersama taburan ilmu dari narasumber keren Baik sahabat
semua...Saatnya kita panggil narasumber kita yang luar biasa Bapak Raimundus
Brian Prasetyawan Yoook kita sambut
dengan gempita. Silahkan pak......Waktu dan chat khusus untuk bapak.
Baik terima kasih Bu Mutmainah yang
sudah membuka pertemuan kita malam ini. Bagaimana kabarnya pak? Puji Tuhan baik
dan sehat bu, makasih pembukaannya luar biasa, : Sama-sama pak. Jadi bikin
peserta siap dan semangat ikut pertemuan kelas ini Yoo semangat semuanya. Baik
selamat malam bapak/ibu penulis di seluruh wilayah Indonesia. Senang sekali
kali ini saya berkesempatan sharing dan berdiskusi dengan bapak/ibu terkait
menerbitkan buku di penerbit indie
Disetiap gelombang pelatihan ini,
saya selalu berharap banyak peserta yang akhirnya bisa menerbitkan buku solo
setelah ikut pelatihan ini, maka untuk mencapai harapan itu, salah satunya
adalah dengan adanya materi seperti malam ini. Tentang menerbitkan buku di
penerbit indie. Menerbitkan buku solo juga menjadi syarat lulus pelatihan ini.
Maka perlu disimak materi malam ini untuk bekal nanti bapak/ibu akan
menerbitkan buku solo.
Sebelumnya saya juga peserta
pelatihan ini yaitu gelombang 4 pada Maret 2020. Dahulu tidak ada materi
tentang penerbit indie seperti sekarang ini. Peserta mencari sendiri mau
menerbitkan dimana. Sebelum lebih jauh, terima kasih juga kepada Om Jay yang
sudah membuat wadah pelatihan belajar menulis ini, sehingga para guru penulis
se-Indonesia dapat terhubung dan saling mendukung. Baik kita mulai masuk ke
materi
Sesuai tema malam ini, Mengapa menerbitkan buku dikatakan semakin
mudah ? Ya karena sekarang ini ada penerbit indie yang melayani penerbitan buku
tanpa seleksi. Dahulu ketika penerbit indie belum eksis seperti sekarang, kita
hanya tahu bahwa penerbit buku yang ada itu hanya penerbit mayor seperti
Gramedia, Grasindo, Erlangga, Elex media, Andi, dll.
Tahap seleksi naskah menjadi
tantangan untuk bisa menembus penerbit mayor. Penulis harus berjuang mencoba
mengirim naskah ke beberapa penerbit hingga bisa diterima oleh suatu penerbit
mayor. Penolakan naskah menjadi makanan sehari-hari penulis. Ketika naskah
diterima pun proses penerbitannya sangat lama. Kini ada penerbit indie yang
bisa menjawab rintangan-rintangan tersebut. Naskah pasti diterbitkan Proses
penerbitan mudah dan cepat Mari simak lebih lanjut ciri-ciri penerbit indie

Bagi penulis pemula tentu penerbit indie menjadi solusi untuk
bisa mewujudkan impian memiliki buku karya sendiri. Memang kalau di penerbit indie, kita perlu keluar
biaya-biaya untuk mendapat fasilitas
penerbitan, atau jika ingin cetak ulang tapi itu memang konsekuensi dari
penerbitan tanpa seleksi, sehingga biaya penerbitan menjadi tanggung jawab
penulis untuk mendapat fasilitas penerbitan yang memuaskan
Saya
sendiri sudah menerbitkan 3 buku solo. Semuanya di penerbit Indie. Buku Pertama
Buku Blog Untuk Guru Era 4.0. https://www.praszetyawan.com/2020/02/buku-blog-untuk-guru-era-40.html.
Buku Kedua Aksi Literasi Guru Masa Kini https://www.praszetyawan.com/2020/06/buku-aksi-literasi-guru-masa-kini.html
Buku Ketiga
Menerjang Tantangan Menulis Setiap Hari. https://www.praszetyawan.com/2020/10/buku-solo-terbaru-menerjang-tantangan.html
Mungkin sebelum pertemuan malam ini
sebagian bapak/ibu sudah tahu ada beberapa penerbit indie. Atau sudah melihat
info-info penawaran penerbitan buku di penerbit indie. Seperti pertemuan
kemarin ada penerbitnya Cak Imin. Silakan bisa menjadi tambahan
wawasan/referensi bagi bapak/ibu dalam memilih penerbit. Yang pasti, dalam
pelatihan ini bapak/ibu bebas memilih penerbit manapun. Tidak ada kewajiban
harus pakai penerbit tertentu, Silakan
bapak/ibu memilih penerbit berdasarkan selera/kondisi masing-masing;
Sebagai
tips, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan penerbit
indie
Biaya penerbitan
● fasilitas
penerbitan
● Batas
maksimal jumlah halaman
● Ketentuan
dan Biaya cetak ulang
● Apakah
dapat Master PDF
● Jumlah
buku yang didapat penulis
Jadi
silakan hal-hal tersebut disesuaikan dengan kondisi/keinginan bapak/ibu
masing-masing. Saya termasuk salah satu yang bisa membantu bapak/ibu
menerbitkan buku. Dalam hal ini saya membantu menghubungkan ke pihak penerbit.
Saya melakukan ini untuk peserta belajar menulis sejak Juli 2020. Mengapa saya
membantu mengubungkan bapak/ibu ke penerbit indie ?
Silakan
bisa disimak gambar di bawah ini

Saat itu (Juli 2020) saya melihat
bapak/ibu peserta yang belum tahu mau menerbitkan buku dimana. Kemudian
terdapat juga beberapa cerita kasus yang saya dengar. Ada yang sudah mengirim naskah ke suatu
penerbit, namun kemudian tidak jelas kabarnya. Bahkan hampir setahun menunggu,
tidak ada kejelasan apakah betul-betul akan diterbitkan atau tidak. Ada juga
yang menemukan penerbit namun biayanya luar biasa mahal, sampai berjuta-juta.
Melihat kasus-kasus tersebut maka
saya membantu bapak/ibu memilihkan penerbit yang sudah terpercaya dengan harga
terjangkau dan mengawal sampai naskah terbit menjadi buku. Saya memiliki
rekanan penerbit indie yaitu Penerbit Depok dan Penerbit Malang. Saya sudah
pilihkan penerbit yang enak banget. Kinerjanya sudah tidak diragukan lagi.
Hasil cetakannya bagus. Bapak/ibu bisa buktikkan sendiri. Bapak/ibu tidak perlu mengalami hambatan,
karena ada saya yang mengawal dan menjamin buku sampai terbit.
Bapak/ibu
memiliki kondisi dan keinginan yang berbeda-beda terhadap buku yang akan
diterbitkan. Maka saya coba akomodir dengan menyediakan 2 penerbit tersebut
yang bisa bapak/ibu pilih, silakan lihat gambar berikut

Dari table tersebut dapat
disimpulkan bahwa Penerbit Depok cocok untuk bapak/ibu yang memang hanya
sekedar menerbitkan buku saja, tidak berencana cetak ulang, sekadar untuk
pribadi saja, sehingga tidak perlu
jumlah buku yang banyak. Maka biaya penerbitannya lebih terjangkau. Di sisi
lain, Biaya penerbitan yang terbilang murah membuat biaya cetak ulang di
penerbit depok cukup lumayan.
Penerbit Malang cocok untuk
bapak/ibu yang berencana menjual
bukunya, karena jumlah buku yang diberikan lebih banyak. Dengan biaya
penerbitan 650.000 terhitung lebih hemat. Jika stok buku habis, bisa cetak
ulang lagi dengan biaya cetak per buku lebih murah dibanding penerbit depok. Terkait
ketentuan menerbitkan buku di 2 penerbit rekanan saya tersebut, bisa lihat link-link
postingan blog saya berikut


https://www.praszetyawan.com/2021/10/murah-banget-menerbitkan-buku-ber-isbn.html
Namun
bersyukur, 2 penerbit rekanan saya tersebut tetap bisa mengeluarkan nomor ISBN
walaupun sekarang ini menerbitkan buku
ber-ISBN perlu waktu yang cukup lama (3-4 bulan)
Jika
nanti bapak/ibu ingin mengirim naskah buku ke salah satu penerbit rekanan saya
tersebut, silakan kirim japri ke WA saya. Bapak/ibu sertakan kelengkapan naskah
yaitu: 1). cover ( judul buku dan nama penulis saja), 2). Prakata, 3). daftar
isi (tanpa nomor halaman), 4). profil penulis, 5). sinopsis. Semuanya digabung
dalam 1 file word. Tips dari saya, jangan menentukan deadline kapan buku harus
terbit, misalkan karena untuk kenaikan pangkat, buku diminta agar terbit bulan
apa gitu
Proses penerbitan buku ya hanya bisa
ditunggu saja. karena naskah yang masuk ke penerbit tidak hanya 1-2 saja. Tapi
puluhan setiap bulannya. Belum lagi proses cetak sekitar 2 minggu, karena
menerbitkan buku bukan seperti fotocopy yang bisa sehari jadi hehe

Demikian
sharing saya malam ini. https://pelatihanbelajarmenulis.blogspot.com/2021/06/galeri-buku-karya-peserta-belajar.html.
Materi yang sangat luar biasa. Yuk
yuk yang ingin bertanya, dan punya uneg uneg kirim japriannya ke saya yaa. 085216628447.
Sahabat literasi nusantara, baiklah kita mulai sesi tanya jawab dengan kode P
untuk Pertanyaan. Mohon Bapak memberi kode “N” untuk Next pertanyaan
berikutnya agar dapat dilanjutkan. Terima kasih.
P1 Selamat malam, perkenalkan nama saya
Sita BM 26.Mohon ijin bertanya Pak Brian. Terkait dengan ISBN, apakah dapat
diartikan bahwa pada penerbit mayor bisa
mendapatkan ISBN, sedangkan pada penerbit Indie harus sesuai syarat yang
diberlakukan baru bisa mendapatkan ISBN? Terima kasih
Baik Bu Sita....Secara garis besar,
syarat yang ditentukan agar terbitan buku suatu penerbit mendapat ISBN adalah
dipasarkan secara luas. Syarat ini sudah otomatis terpenuhi penerbit mayor
karena memang bukunya dipasarkan secara luas. Sedangkan penerbit indie harus
menyesuaikan syarat ini agar memenuhi ketentuan "dipasarkan secara
luas". Puji Tuhan 2 penerbit indie rekanan saya, bisa memenuhi syarat itu.
Maksud saya terkait penjualan buku
bunda. Kalau penerbit mayor untuk penjualannya akan di fasilitasi penerbit
mayor, sedangkan penerbit Indie penjualan bukunya secara mandiri.Terima
kasih dari pertanyaan bu sita pak. baik, memang betul, Lebih tepatnya penerbit
indie memasarkan lewat web/medsos/marketplace yang dimiliki. Namun kalau dari
situ saja kurang maksimal, maka akan lebih terasa jika penulis yang memasarkan
sendiri karena penulis tahu siapa target buku terbitannya
P2
Selamat malam Pak saya dari Riau BM 25 mau bertanya. : 1). Apa syaratnya
agar naskah diterima oleh penerbit
Indie. 2). Bagaimana caranya menerbitkan buku sendiri.3). Apa yang dimaksud dengan
penerbit mayor dan penerbit minor, 4). Dimana bisa dipasarkan buku yang dicetak
oleh penerbit mayor dan penerbit minor. 5). Dimana naskah penulis pemula bisa
diterbitkan. 6). Apakah buku penulis pemula bisa dipasarkan. Kalau bisa dimana
? Demikian Pak Mohon arahannya terima kasih.
Jawab : 1). Tidak ada syarat. Tapi
ikuti ketentuan dari penerbit indie tersebut, 2). maksudnya menerbitkan buku
tanpa penerbit ? ya bisa saja. Namun cover, layout harus dikerjakan sendiri.
Percetakan juga harus cari sendiri. dan tidak bisa ber-ISBN, 3). Penerbit
mayor: gratis, tapi ada seleksi. Penerbit indie: tidak ada seleksi, tapi
berbayar, 4). Penerbit mayor: toko buku. Minor: web/medsos/marketplace penerbit,
5). Di penerbit indie, kalau mau bisa di saya, 6). Bisa. lewat medsos, share ke
WA,
P3. Selamat malam Bapak Brian. Saya
Rumiati Gelombang 25. Mohon pencerahan tentang kewajiban peserta pelatihan
untuk membuat buku solo: 1). Apakah
diharuskan membuat buku solo tersebut? 2)
.Yang saya dengar dari teman kalau hasil resume kita ini akan dibukukan menjadi
buku solo, apakah ini yang dimaksud ?
Jawab : 1). Iya harus, jika ingin
mendapat sertifikat pelatihan ini, 2). Iya betul, untuk membuat buku solo bisa
dari kumpulan tulisan resume selama pelatihan ini. Resume-resume tersebut
digabung dalam 1 file word disertai kelengkapan naskah. Jadi deh naskah buku
solo
P4. Selamat malam Pak Brian. Saya
Sim Chung Wei dari Jakarta maaf sebelumnya sedikit keluar topik. 1). Saya baru
mengetahui syarat lulus pelatihan ini adalah menerbitkan buku solo, Jika sampai pelatihan selesai, dan resume
lengkap, sementara buku solo kita belum
terbit, apakah tidak dianggap lulus? 2).
Apakah menerbitkan buku indie, dan ingin
menjualnya, kita memasarkan sendiri? Terima
kasih
Jawab : 1) Nah ini penting, dan perlu diperhatikan
bapak/ibu peserta semuanya. Bahwa saya tidak pernah menyebutkan deadline kapan
buku solo harus terbit. Jadi kapan saja buku solonya terbit, tetap bisa lulus.
Karena saya memahami bahwa proses penerbitan itu perlu waktu yang tidak
sebentar dan setiap penerbit beda-beda lama waktu penerbitannya. Jjadi jangan
merasa pertemuan terakhir pelatihan adalah deadline buku solo. Tidak ada
ketentuan itu. 2). akan lebih efektif
jika kita yang menjualnya sendiri
P5. Jika saya mau menerbitkan
buku kepada pak Brian : 1). Apakah bisa memilih
cover sendiri dari luar penerbit pak Brian, 2). Apakah include editing
dari penerbit ? 3). Kalo tidak salah, penerbit menyerahkan dua buku kepada
perpusnas, apakah dua buku itu ditanggung penerbit atau oleh penulis ? 4). Untuk ketentuan biaya ISBN dan QRCBN
apakah berbeda ? Terima kasih.
Jawab : 1). Bisa, 2).
Penerbit malang saja yang include editing, 3). itu tanggung jawab penerbit. 4).
ISBN dan QRCBN sama saja biayanya. Yang beda adalah lama waktu penerbitannya.
ISBN lebih lama
P6 Haruskah menerbitkan
buku dari hasil resume? Nah ini juga penting. Untuk syarat pelatihan ini, buku
solo yang diterbitkan tidak harus dari hasil resume, boleh tema/genre bebas
apapun, misalnya kumpulan cerpen/puisi/pantun, buku ajar, memoar kisah
perjalanan hidup kita, dan lainnya. yang penting hanya ditulis oleh 1 orang
(solo) yaitu diri kita sendiri
Boleh ngopi dulu pak
sambil nunggu pertanyaan dari peserta, Oalah hehe siap bu
P7 Izin bertanya pak.
Mana yang lebih baik penerbit Depok apa penerbit Malang
Tidak
bisa dibandingkan mana yang lebih baik, karena masing-masing memiliki
karakteristik tersendiri, silakan memilihnya sesuai kondisi/keinginan bapak/ibu.
jadi lebih ke cocok-cocokan saja
P8. Assalaamu'alaikum
kakak moderator. Saya Yandri Novita Sari. Izin bertanya ke bang brian kak : 1).
Bagi tips dong bang, meskipun kita menerbitkan buku di penerbit indie, tapi
buku kita bisa laris di pasaran, 2) Bisa tidak bang, kita kan cetak di penerbit
indie, tapu buku kita bisa masuk ke penerbit mayor, misal kayak buku kita ada
di gramedia gitu bang?
Jawab : 1). Maksimalkan
medsos dan media online apapun. Tipsnya: share ke grup yang memang cocok dengan
tema buku tersebut. Misalnya buku pendidikan, ya share infonya ke grup guru-guru.
Yang lebih ampuh juga japri ke teman-teman dekat. Kemudian bikin promo, yang
paling sering adalah diskon saat masa pre order. Kemudian posting cuplikan isi
buku ke medsos, 2). Bisa aja, asal kita
bilang ke penerbit indie bahwa kita mau cabut buku kita dari penerbit indie
tersebut. Lebih lengkapnya nanti bisa tanya saat pertemuan dengan narasumber
penerbit andi
P9. Agus Winarno, Pangkalan Bun, Kalteng Gelombang
25. Apabila kita membuat buku antologi karya siswa, selanjutnya kita juga
membuat, di situ apakah kita bisa di sebut sebagia penulis atau hanya editor. terima
kasih
Jawab : Iya kalau kita
(gurunya) juga ikut menulis ya tentu bisa disebut penulis. Tapi kalau tidak
ikut menulis, barulah disebut editor saja
P10. Baik Pak Brian yang
luar biasa : 1). Cak Inin dan pak Brian serta Bu kanjeng sama-sama menerbitkan
Buku. Pertanyaannya : Kami apakah dibebaskan pilih yang mana saja? 2): Mengapa di penerbit pak Brian Mazda--
minimal 1 bulan baru akan naik cetak?
Jawab : 1. Iya tadi sudah
saya sampaikan. Bapak/ibu dibebaskan pilih yang mana saja. Tidak ada paksaan
harus di penerbit tertentu. Saya, Cak inin, dan Bu Kanjeng semuanya bersifat
menawarkan saja. Pilihan kembali pada bapak/ibu, 2.) Bukan 1 bulan baru naik
cetak, tapi 1 bulan buku selesai terbit (termasuk selesai cetak). Tapi itu
paling cepat. Tidak mesti selalu bisa 1 bulan. Bisa hampir 2 bulan. Tergantung
banyaknya antrian naskah
P11. Assalamu'alaikum Wr
Wb. Saya Kasiatun dari Kabupaten Pelalawan Riau, izin bertanya Pak. Apakah kita
hanya seorang saja boleh mencetak buku solo dengan cetakan terbatas. Berapa
minimalnya yang harus dicetak. dan apakah ada syarat lainnya lagi? Terima
kasih.
Jawab : Ini saya belum
paham pertanyaannya. Bisa dijelaskan ? Maksudnya menanyakan batas minimal cetak
buku pak? Jawab : untuk syarat pelatihan, tidak ada batas
minimal jumlah cetak buku. Batas minimal jumlah cetak buku, ikuti saja dari
yang disediakan penerbit. misalnya di saya, penerbit Depok mendapat 2 buku
untuk penulis. Penerbit Malang dapat 10 buku untuk penulis.https://www.praszetyawan.com/2021/09/ini-cara-menerbitkan-buku-dengan-mudah.html. Syarat ketentuan penerbit malang.
Assalamu alaaikum pak. Untuk
format draft buku kumpulan puisi bagaimana formatnya pak? Apa saja yang perlu
disertakan? Makasih pak Brian🙏
Sama saja formatnya. Yang
disertakan juga sama: 1). cover ( judul buku dan nama penulis saja), 2).
Prakata, 3). daftar isi (tanpa nomor halaman), 4). profil penulis, 5.) sinopsis
Tadi penanya terakhir pak. Kepada Pak Brian , kami sampaikan rasa
terimakasih. Karena Bapak malam ini menjadi bertabur semangat, karena inspirasi
dari bapak malam ini, menjadikan kami ingin mengikuti jejak langkah. Semoga
Tuhan yang maha Esa selalu meridhoi langkah sukses Bapak. Sehat selalu ya
Pak... Bapak, sudikah bapak memberi kata
closing hari ini ? Mohon maaf jika
selama ini membersamai sahabat di setiap kelas, saya mempunyai kekurangan dan
kesalahan. Uluran maaf setulus hati, bagi kesalahan yang mungkin tak sengaja
melukai.
Mari bergandengan tangan
untuk menyemarakkan literasi di negeri tercinta. Bersama kita pasti bisa
menebar warna indah dalam goresan karya. Baik terima kasih Bu Mutmainah sudah
mendampingi saya dan memimpin berjalannya pertemuan malam ini, sehingga berjalan
lancar. Terima kasih bapak/ibu yang
sudah mengikuti pertemuan malam ini. Semoga bisa bermanfaat untuk menambah
referensi terkait penerbitan buku.
Sebagai penutup,
menerbitkan buku sekarang mudah karena ada penerbit indie. Jadi jangan takut
untuk menerbitkan buku jika kita punya naskah. Jangan hanya disimpan di folder
dalam laptop saja. Siapa tahu orang lain menyukai atau bahkan membutuhkan
tulisan kita.
Di sisi lain, kita harus tanggung jawab
dengan tulisan kita yang akan diterbitkan. Harus dibaca ulang lagi sebelum
dikirim ke penerbit. Siapa tahu ada yang masih perlu diperbaiki. tentu tidak
boleh dong dalam naskah buku ada singkatan-singkatan seperti: utk, tdk, yg, dan
lainnya
Jika dalam sesi tanya jawab tadi bapak/ibu
belum puas jawabannya, silakan bisa japri saya. atau jika suatu saat ada
pertanyaan, silakan japri saya. Satu lagi tadi saya bilang tidak ada deadline
terbit buku solo. Namun lebih baik jika resume sudah 20, langsung susun menjadi
naskah buku. Membaca ulang lagi itu harus dan perlu waktu yang lama. Serta juga
membuat kelengkapan naskahnya.
Jadi nanti walaupun
pelatihan masih berjalan, bapak/ibu sudah mulai menyusun naskah, menggabungkan
dan merapikan resume-resume di file word. Mumpung masih semangat dengan suasana
pelatihan yang masih berjalan. Kalau baru menyusun naskah saat pelatihan sudah
selesai, dikhawatirkan semangatnya nanti sudah turun. Buku solonya jadi
ntar-ntaran terus hehe, demikian bu Mut
Terima kasih pak materi yang sangat memukau. Demikian
bapak ibu materi kita malam ini saya atas nama moderator mohon maaf atas segala
kekurangan dan mohon undur diri Wassalamualikum warahmatullahi wabarakatuh
Comments
Post a Comment