Resume ke
-20 Jumat 1 Juli 2022
Menguak
Dapur Penerbit Mayor
Oleh : Adnan
Adam
Pembaca yang budiman, pada
kesempatan ini penulis melanjutkan menulis buku solo memanfaatkan WA grup
belajar menulis . Kali ini penulis akan menyusun resume materi “Menguak Dapur
Penerbit Mayor” yang dituliskan oleh narasumbernya Bapak Edy. S .Mulyanta S Si,
MT dan didampingi oleh moderator Ibu
Rosminiyati. Apa yang dituliskan oleh narasumber dan moderator dan apa
pertanyaan dari peserta ? Berikut ini adalah sebagian besar dari tulisan mereka
:
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakaatuh. Selamat malam Bapak/Ibu guru hebat, pecinta literasi se-nusantara
yang sebentar lagi akan meluncurkan buku solo masing-masing. Malam ini saya Ibu
Rosminiyati kembali membersamai bapak/ibu hebat dalam menikmati sajian materi
yang akan disampaikan oleh narasumber kita. Sebagai salah satu syarat kelulusan
dari Pelatihan Belajar Menulis adalah
menerbitkan buku solo dengan minimal pengumpulan resume sebanyak 20 kali
pertemuan, maka kegiatan malam ini adalah menggenapkan jumlah pertemuan
tersebut bagi Bapak/Ibu yang menulis resume secara runtut.
Sekalipun kewajiban menulis
resume hanya 20, namun materi pertemuan
ke-21 s.d. 30 tidak kalah penting dan
menarik untuk dipelajari sekaligus diramu dalam resume yang dapat
dikirim pada linknya, sekaligus belajar menulis di blognya masing-masing. Sebagai penulis, tentunya kita ingin sekali
jika buku kita bisa diterbitkan oleh Penerbit Mayor dengan berbagai
keunggulannya. Untuk itu, tentu saja kita harus mengetahui seluk beluk atau
kriteria agar buku kita bisa diterbitkan di Penerbit Mayor tersebut.
Malam ini,
narasumber kita Bapak Edi S. Mulyanta, S.SI,., M.T. akan membahas materi dengan
topik “Menguak Dapur Penerbit Mayor”. Jika kita sampai diajak masuk ke dapur,
artinya kita adalah keluarga dekat yang tentu saja tidak ada rahasia tentang
resep utama dalam jurus-jurus penerbitan buku di Penerbit Mayor ini. Oleh
karena itu, silakan simak baik-baik materi yang akan disampaikan oleh narasumber agar dapat menjadi jalan bagi
bapak/ibu sebagai penulis buku Penerbit Mayor.
Baiklah Bapak
Ibu hebat se-nusantara, seperti pada
pertemuan-pertemuan sebelumnya, acara kita terdiri dari: 1). Pembukaan,
2). Pemaparan materi, 3). Tanya jawab, 4). Penutup. Untuk sesi tanya jawab, pertanyaan bisa
disampaikan ke nomor HP 08127396949 (Rosminiyati) dengan format: nama, asal
kota/sekolah dan pertanyaan. Untuk mengawali acara kita, marilah kita
mengucapkan lafaz basmalah. Selanjutnya, agar belajar malam ini diberikan
kemudahan, kelancaran, dan kerberkahan, marilah kita berdoa sesuai agama
masing-masing. Berdoa dimulai. …berdoa
selesai.Aamiin.
Sebelum masuk ke materi inti, agar
kita lebih mengenal sosok narasumber hebat kita, marilah sama-sama kita simak
profil beliau melalui tautan berikut : https://www.pbuandi.com/2021/11/edi-s-mulyanta.html?view=flipcard.

Wah ... sudah penasaran ya ingin
Menguak Dapur Penerbit Mayor. Mari kita sapa dulu narasumber kita yang luar
biasa. Assalamualaikum Pak Edi S. Mulyanta. Waalaikumsalam semuanya Selanjutnya, saya serahkan ruang chat kelas
belajar menulis ini seluas-lausnya kepada Bapak. Silakan, Pak .
Baik terimakasih bu Rosminiyati
atas waktunya. Sama-sama, Pak. Siap menyimak. Tadi sudah diperkenalkan ya bapak ibu tentang
saya.. bapak ibu bisa juga melihat-lihat buku-buku digital yang sudah terbit di
tempat kami di www.pbuandi.com.
Bapak ibu bisa melihat buku-buku yang terbit selama pandemi dalam bentuk
digital. Saya sudah hampir 20 tahun mengelola penerbitan buku, awalnya saya
adalah penulis buku mandiri yang hidupnya full dari menulis buku. Kemudian
dipercaya untuk mengelola penerbitan buku di Yogyakarta.
Dua tahun pandemi sungguh merupakan masa terberat
selama karier saya mengelola penerbitan buku. Tahun 2019 merupakan tahun yang
paling berat dalam dunia penerbitan buku, karena perubahan teknologi
betul-betul seperti bayang-bayang kelam yang dapat melahap dunia penerbitan
buku di Indonesia bahkan di dunia. Ditambah serta diperparah lagi dengan
pandemi Covid yang menambah luluh lantaknya industri penerbitan di Indonesia.
Beruntungnya sebelum pandemi,
pemerintah telah mengeluarkan undang-undang perbukuan yang mencoba format baru
digital untuk dapat dikembangkan di dunia perbukuan Indonesia. Dunia penerbitan
yang saat ini di bawah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), menjadi was-was dan
memandang cukup berat tantangan ke depan dunia cetak dan produksi buku.
Undang-undang no 3 th 2017 tentang sistem perbukuan, telah memberikan isyarat
yang tegas akan hadirnya format media digital yang telah diberikan keleluasaan
untuk secara bertahan menggantikan dunia cetak. Dipertegas lagi dengan
keluarnya Peraturan Pemerintah nomor 22 yang
keluar pada tahun 2022, telah memberikan petunjuk secara tegas untuk memberikan
arah ke dunia digital di penerbitan.
Bapak ibu
sebagai calon penulis harus memahami hal ini, karena atmosfir dunia penerbitan
perlahan-lahan akan berubah, karena posisi penulis menjadi semakin strategis
dalam industri penerbitan. Hal tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk
mengubah haluan visi misi mereka ke arah
yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang lebih cepat
dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum. Beberapa
penerbit yang tidak dapat mengikuti perkembangan jaman, akhirnya mencoba
mengurangi intensitas terbitan bukunya,
akhirnya berimbas pula ke jumlah produksi buku mereka, dan memukul pula
pendapatan atau omzet buku mereka.
Penerbit buku di bawah IKAPI
adalah penerbit yang mementingkan UUD (Ujung-ujungnya Duit) untuk
mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara otomatis cash flow akan
terganggu, sehingga banyak penerbit akhirnya berpindah haluan ke usaha yang lain.
Tahun 2020-2022 merupakan masa paceklik bagi industri penerbitan, akan tetapi
berbeda dengan dunia penulisan yang justru marak-maraknya. Hal ini mungkin
karena aktifitas kita dibatasi, sehingga banyak yang memberikan kesempatan
untuk bekerja dari rumah (WFH)
Penerbit seperti kami, tidak
kekurangan naskah selama pandemi, dengan angka naskah masuk yang masih stabil.
Akan tetapi angka penjualan yang turun hingga 90%, dimana toko buku sebagai
outlet utama kami banyak yang tutup. Sekolah dan kampus sebagai sumber
pendapatan kami juga melakukan proses belajar mengajar secara daring. Produksi
buku reguler sempat terhenti, sehingga banyak penulis yang mempertanyakan masa
depan penerbitan di Indonesia secara umum.
Tidak semua tema buku, ternyata
bisa digantikan oleh digital, hal inilah yang memberikan harapan baru penerbit
untuk masih tetap memertahankan lini bisnis bukunya. Titik balik (rebound) pasar buku yang lesu tampaknya sudah mulai
terasa mulai awal tahun 2022 ini, sehingga beberapa penerbit yang terlanjur
mengurangi produksi bukunya bisa tertinggal oleh penerbit yang masih konsisten
memertahankan produksi bukunya.
Data-data pemasaran tidak pernah
bohong, bahwa beberapa buku dengan tema yang khas ternyata masih sangat baik di
pasar. Nah para penerbit saat ini sedang gencar untuk tetap mempertahankan lini
bisnis, yang memang telah teruji oleh perubahan jaman. Hal ini memang
membutuhkan dana yang luar biasa besar untuk mencoba menggali lebih dalam pasar-pasar
buku yang tidak tergoyahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu gencar.
Di dalam dunia Start-up dikenal dengan strategi bakar uang, nah di
penerbit-penerbit masih mencoba untuk melakukan beberapa penelitian tema yang
masih tetap baik di pasar.
Tema yang menjadi primadona ke
depan adalah berkaitan dengan kurikulum baru Merdeka Belajar. Bapak ibu
tentunya mempunyai pengalaman tentang hal ini, bisa dicoba ditawarkan ke
penerbit. Peluang untuk terbit cukup menarik dengan tema kurikulum yang baru.
Menarik ini. Penerbit-penerbit mayor mempunyai idealisme masing-masing,
sehingga perlu bapak-ibu perhitungkan jika mengusulkan usulan buku ke
penerbit-penerbit tersebut.
Toko buku saat ini sudah mulai
kembali menggeliat, peluang terbit di lini toko buku memang cukup berbeda
dengan lini sekolah maupun kampus. Tema buku yang menjadi andalan Toko Buku
saat ini adalah tema buku non teks, seperti buku Anak, Buku Motivasi dan Agama, Fiksi, hingga buku Masak yang
masih nangkrin di 10 besar data buku terlaris di setiap toko buku di Indonesia.
Yang menjadi permasalahan klise di dunia
penerbitan adalah masalah modal beserta pembiayaan produksi buku yang cukup
besar nulainya dalam sebuah proyek terbitan satu judul buku.
Konsep dasar pembiayaan dalam
penerbitan buku, adalah penerbitnya yang membiayai. Nah karena banyak tulisan
yang tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit akhirnya tidak dapat terbit.
Karena banyaknya buku yang ditolak penerbit, akhirnya penerbit memberikan skema
lain dalam penerbitannya. Misalnya dibiayai oleh penulisnya sendiri, baik
melalui skema dana pribadi, CSR Perusahaan, Dana Penelitian Daerah, Dana
Sekolah dll.
Skema penerbitan Indi, sempat
marak saat pandemi, dengan pembiayaan dari penulis akhirnya sebuah naskah dapat
diterbitkan. Maraknya penerbitan indi ini ternyata memicu permasalahan yang lain
yang belum pernah terjadi selama saya berkarier di dunia penerbitan yaitu
menjadi langkanya nomor ISBN di perpustakaan nasional. Geger ISBN pun
menjadikan permasalah literasi di Indonesia menjadi sorotan dunia. Begitu besar
semangat untuk menulis di Indonesia menjadikan nomor ISBN pun tidak kuasa
menerima energinya. Apakah benar begitu? Ternyata ada anomali yang tidak wajar
terjadi didunia perbukuan di Indonesia. Wadah ISBN yang biasanya tersedia
dengan mudah untuk mendapatkannya, saat ini menjadi nomor mewah yang cukup
sulit untuk mendapatkannya. Mengapa bisa demikian, hal ini karena dipicunya
keinginan menulis buku hanya untuk mengejar angka kredit semata, tidak
memikirkan apakah tulisan tersebut disebarluaskan ke masyarakat seperti amanat
undang-undang perbukuan 2017.
Apakah manfaat ISBN tersebut? Ini saya ambil dari presentasi perpustakaan
nasional tentang fungsi ISBN. Pemicu kelangkaan ISBN pada dasarnya bukan karena kesalahan ekosistem
penerbitan Saat ini konsep penerbitan
buku oleh pemerintah dicoba untuk kembali sesuai dengan Undang-undang perbukuan
2017, dimana terbitan buku harus tersebar luas di masyarakat. Perpustakaan
nasional akhirnya memberikan kebijakan baru untuk membuat sub nomor untuk
menghemat ISBN yang telah dijatah oleh ISBN Internasional.
Ini adalah struktur utama ISBN,
pada publication element menunjukkan jumlah produksi buku yang telah
diterbitkan untuk mengetahui jumlah rata-rata produksi buku sebuah penerbit. Semoga dengan kebijakan ini, semangat menulis
bapak-ibu masih tetap terjaga. Buku adalah sumber ilmu, yang memang harus
disebarluaskan ke masyarakat untuk meningkatkan literasi di segala bidang. Aamiin.
Nah buku apa yang dapat bapak ibu
tulis, sebaiknya bapak ibu mengikuti aturan pemerintah yang paling baru. Tulislah
sesuai dengan kompetensi serta minat bapak ibu sekalian. Buku dengan Omzet
terbesar adalah buku teks pelajaran utama, karena pasarnya sangat besar seluruh
sekolah di Indonesia. Buku ini melalui proses seleksi dari pemerintah yang
cukup ketat. Semua penerbit mempunyai peluang yang sama, akan tetapi penerbit
yang misi dan visinya di buku pelajaran biasanya yang lebih siap.
Buku teks pendamping atau modul
biasanya mempunyai pasar yang lebih kecil, akan tetapi sangat fleksibel pola
pemasarannya. Tidak mustahil buku ini juga mempunyai omzet yang cukup besar
juga disalurkan di proyek-proyek pemerintah. Buku umum pasarnya paling kecil,
karena outlet utama adalah di toko buku baik toko buku modern maupun
tradisional.
Penerbit mayor mempunyai saluran
pemasaran yang cukup banyak, atau disebut omni channel marketing sehingga
selama pandemi bisa berkelit di saat yang sulit. Nah bapak ibu sebagai calon penulis dapat
mencoba menawarkan semua tipe tulisan supaya peluang terbitnya menjadi lebih
besar. Saat ini pasar buku sudah mulai bangkit lagi, akan tetapi produksi buku
sudah terlanjur melambat. Sehingga bulan-bulan ke depan, jumlah judul buku yang
beredar di Indonesia akan mengalami penurunan akibat 2,5 tahun pandemi. Ini kesempatan
bagi bapak ibu untuk tetap semangat menulis karena pasar buku masih cukup
menarik mengingat buku fisik masih menjadi andalan utama penerbit dalam mencari
peruntungannya.
Kesimpulan : Penerbit adalah
lembaga yang mencari profit, dan mempunyai idealisme dalam menerbitkan bukunya
sesuai dengan visi misinya. Penulis dapat mengikuti idealisme penerbit dalam
menghasilkan buku yang akan dinikmati oleh pembacanya. Kirimkan usulan
penerbitan buku, supaya ide Anda dapat ditangkap penerbit dan disebarluaskan ke
pembaca.
Demikian paparan saya bu Ros..
semoga dapat memberikan gambaran tentang dunia penerbitan di Pasca Pandemi yang
cukup memporak porandakan lini bisnis penerbitan. Semoga pasar buku bisa
kembali pulih, dan naskah bapak ibu sekalian akan menghiasi rak-rak toko buku
kembali, dan tas-tas sekolah anak didik kita... Aamiin.
Masya Allah, materi yang luar
biasa. Terkuak sudah dapur penerbit mayor. Namun, jika masih ada yang dirasakan
perlu untuk ditanyakan, mari kita bahas dalam sesi tanya jawab. Silahkan
Bapak/Ibu yang ingin bertanya. Kita mulai sesi tanya jawab dari pertanyaan
pertama (P 1). Mohon Pak Edi beri kode “N” (Next) untuk melanjutkan pertanyaan
berikutnya. Terima kasih. Baik bu
P 1. Assalaamu'alaikum Pak, Yandri
Novita Sari izin bertanya. Untuk lolos di penerbit mayor apalagi penulis pemula
yang nama nya tidak familiar sama sekali tentu butuh usaha ekstra agar bisa
lolos di penerbit mayor. Sebagai pemula tentu yang dikejar pertama itu penerbit
indie. Pertanyaan yandri:
1). Apa boleh,
misal kita menerbitkan buku solo lewat penerbit indie.. Trus nanti pengen buku
kita ada di penerbit andi, atau gramedia yang notabane nya mayor. Apakah bisa
itu pak? 2). Untuk lolos di penerbit mayor (Penerbit Andi) misal yandri ingin menulis berupa novel, nah untuk kriteria novel yang
lolos di Penerbit Andi itu yang bagaimana pak? Apa genre nya humor, romansa,
magic, horor dan lainnya pak. 3). Apakah ada penulis pemula yang lolos di
Penerbit Andi tanpa menggandeng penulis senior pak?
Silakan, Pak.
1). Pada dasarnya sebuah terbitan
hanya boleh di dalam satu penerbit saja. Karena hak cipta ada di penulis, maka
penulis dapat menerbitkan edisi
selanjutnya ke penerbit lain dengan mencabut hak terbit penerbit pertama
disebut pula mengalihkan hak terbit. 2). Novel adalah genre yang laku di toko
buku dan proyek pemerintah. Nah novel yang bisa lolos di penerbit memang harus
mempunyai tema yang kuat, ada unsur pendidikan, lokalitas daerah juga menarik
bu. Sebagai contoh Laskar Pelangi itu mengangkat lokalitas daerah. Negeri Lima
Menara mengangkat dunia pesantren. dll. Genre Humor - contohnya tulisan-tulisan
Raditya Dika, masih cukup menarik, hanya perlu riset untuk menentukan tema baru
apa untuk generasi digital saat ini. 3). Penulis pemula mempunyai peluang yang besar
untuk terbit jika memang unik materinya. Contoh buku ini ditulis oleh anak
SMP.. cukup baik pemasaran bukunya.

Untuk menulis solo memang butuh
perjuangan yang lebih berat. Untuk mengatasi nama yang belum dikenal, bapak ibu
bisa meminta kata pengantar, atau comment untuk mendongkrak pasar. Tentu comment dan kata pengantar dari penulis
senior, tokoh masyarakat, artis atau orang yang dianggap ahli.
P
2. Nama Asep Saya Hidayatullah MIN 2 Pandeglang, Izin bertanya : Bagaimana
prosesnya daftar cetak buku dan pembiayaan bagaimana dan benefitnya apa?
Ada dua konsep yang berbeda, yang perlu bapak
ibu ketahui dalam memproduksi buku. Mencetak buku atau menerbitkan buku,
keduanyaa mempunyai arti yang berbeda sekali. Mencetak buku, hanya akan
memproduksi buku saja tanpa proses editing, setting, dan desain cover. Karena
hal ini dilakukan oleh penulis sendiri. Menerbitkan buku, artinya menyerahkan
naskah untuk diproses menjadi buku. Ada proses editing, setting perwajahan buku
dalam, perwajahan buku luar (cover) dan back cover. Untuk naskah reguler, pembiayaan dilakukan
oleh penerbitnya, dengan terlebih dahulu melakukan kajian bisnis sebuah buku
apakah menguntungkan atau tidak. Karena cukup ketatnya kajian bisnis sebuah
buku, sehingga banyak buku yang tidak
mampu dijual oleh penerbitnya, sehingga diputuskan untuk dikembalikan ke
penulisnya. Penulis terkadang membiayai sendiri karena mendapatkan sponsor,
menang hibah penulisan dari pemerintah, atau pembiayaan sendiri.
Silakan mengirimkan sampel
naskahnya ke email penerbit yang bersangkutan. Penerbit akan melakukan seleksi
dan kajian pemasaran buku untuk usulan naskah yang dikirimkan. Apabila
diputuskan untuk terbit, maka penerbit akan membiayai penerbitan buku tersebut.
Biasanya cetak buku kisarannya antara 1000-2000 eksemplar. Jumlah cetak
saat ini minimal adalah 300 eksemplar, untuk mengantisipasi UU perbukuan
2017 yang mensyaratkan terbitan harus tersebar luas di masyarakat. Hal ini
menjadi syarat untuk dapat mengeluarkan ISBN dari perpusnas.
Jumlah
cetak 300 eksemplar digunakan kemdikbud untuk memberikan hibah penulisan buku
ajar untuk dosen. Kisaran hibah buku adalah 15jt-25 juta untuk produksi buku
300 eksempar, ukuran UNESCO (16x23 cm), font 12 point, 1 spasi.
P 3. Assalamualaikum Pak, saya bu
Elmi dari Riau BM 25 mau bertanya: 1). Apa syarat utama naskah dapat diterima
oleh penerbit mayor, 2). Setiap penerbit tentu ada kelebihan dan kekurangannya.
Yang saya tanyakan apa kekurangan dari penerbit mayor, 3). Apa trik yang harus
dilakukan oleh penulis pemula agar
naskah dapat deal dengan cepat pada penerbit mayor, 4). Kira-kira berapa
target penerbitan naskah pada setiap bulan/tahunnya pada penerbit mayor, 5).
Kira-kira saat ini apa tema-tema yang akan diterbitkan oleh penerbit mayor.
Tentu saja orang dapur pasti tahu dong pak. Boleh kan kami dikasih rahasianya
sedikit . Demikian pak mohon arahannya terimakasih.
1. Syarat utama adalah otentik, mengikuti
kaidah buku ajar (untuk buku pelajaran), mengikuti trend ( dapat ditelusur
google trend https://trends.google.com/trends/?geo=ID),
2). Kekurangan penerbit mayor adalah
jumlah judul, jumlah produksinya yang besar, serta saluran pemasaran yang
beragam sehingga proses cukup lama dan rumit, 3). Naskah harus berani diusulkan ke penerbit,
gandeng penulis-penulis senior yang ada di group ini. Sudah 26 angkatan,
sehingga tidak ada salahnya bapak ibu bersilaturahmi dengan teman-teman
angkatan sebelumnya. Tulislah buku berbarengan dengan tema yang menarik,
seperti kurikulum baru, merdeka belajar, pelajar Pancasila, Pengembangan Soft
Skill untuk anak didik kita. Buku-buku pengayaan dan hard skill juga masih
berpeluang untuk di ulik. Buku yang trend nya tidak surut adalah buku Fiksi
(novel) dan buku anak. 4). Target
terbitan penerbit ANDI adalah 500 judul per tahunnya, 5). Buku tema Anak sangat
menarik untuk diterbitkan, sayang pembuatannya rumit dan membutuhkan kemampuan
illustrasi yang banyak.
Berani
menulis Fiksi dengan muatan lokal, sayang tidak semua penulis piawai merangkai
kata-kata fiktif dalam sebuah cerita. Buku Pelajaran baik Utama maupun
Pendaping, kelemahannya penulis pesaing sudah banyak sehingga kans terbit
sangat ketat persaingannya.
P 4. Selamat malam Bapak Edi, Saya Rumiati
dari gelombang 25. Setelah membaca penjelasan Bapak tentang dunia perbukuan dan
percetakan pada masa pandemi, Saya selaku guru yang tidak secara langsung juga
membutuhkan buku pelajaran maupun buku pendamping untuk mengajar turut
merasakan betapa sulitnya mengajar tanpa tatap muka dengan siswa yang biasanya
mereka memiliki buku pegangan yang
diterbitkan oleh penerbit tertentu. Pertanyaan saya: 1). Apa yang dilakukan oleh para penulis buku,
percetakan/penerbit buku serta pemasaran buku pada masa sulit tersebut? 2).
Jika pihak percetakan beralih ke media digital, apakah proses pemasarannya sama
dengan pemasaran buku cetak? 3). Bagaimana nasib buku yang di cetak tanpa
mendapatkan ISBN? 4). Apakah ada pengganti ISBN agar karya kita diakui? Mohon
pencerahannya. Terimakasih.
1). Penerbit mengalihkan jualannya ke jualan
online, sehingga banyak market place yang kami gunakan untuk menyalurkan
produksi buku yang sudah tercetak. Saluran pemerintah masih cukup kuat untuk
menopang cash flow penerbit. Tentunya penerbit yang mempunyai modal judul buku
yang banyak, lebih mudah bertahan. Kami mempunyai sekitar 50 ribu judul terbit
sehingga lebih leluasa memilih atau meramu judul buku untuk proyek pemerintah.
2). Pemasaran buku digital sangat berbeda
dengan buku fisik. Contohnya di www.pbuandi.com ini adalah model katalog sederhana pemasaran
buku digital. Sayang masih banyak pembaca yang belum familiar dengan transaksi
buku digital. silakan dikunjungi katalog kami.
Silakan dikunjungi
katalog kami. Bisa juga di katalog buku-buku pelajaran kami di http://bukudigital.my.id/
3).
Buku yang tidak mempunyai ISBN memang akan mendapatkan angka kredit yang kecil,
tentu hal ini merugikan penulis yang
bertujuan untuk mendapatkan jenjang akademik dari menulis buku.
4). Ada nomor pengganti ISBN yang
disebut dengan GGKEY yang dikeluarkan oleh Google, sayang nomor ini belum diakui
untuk mendongkrak angka kredit. GGKEY hanya berurusan dengan identifikasi buku
yang akan dijual menggunakan platform GOOGLE. Bapak ibu bisa melalui proses penerbitan
sendiri secara digital melalui partnership dengan goolge .. sayang nomor GGKEY
belum diakui secara sah sebagai pengganti ISBN.
P 5. Selamat malam Pak Edi, Salam kenal saya Bapak Sim Chung Wei, mohon
izin bertanya : 1). Apakah setiap penerbit melaporkan deskripsi buku ke ISBN pusat? Maksudnya
secara internasional. 2). Berapa lama
proses penomoran ISBN? 3). Jika kita mengajukan satu naskah ke beberapa
penerbit mayor, mungkinkah satu buku yang
sama terbit di lebih dari 1 penerbit? Terima kasih
1). Betul bapak, ISBN buku kita selalu
dilaporkan secara internasional sehingga terpantau oleh pusat ISBN di Inggris.
Tidak ada sebuah buku yang sama ISBN nya. . karena nomornya unik seperti sidik
jari atau IP Addres internet.. kelemahannya yaitu bisa habis jatah nomornya. 2)
Proses standar Perputakaan Nasional adalah 3 hari kerja, pada praktiknya bisa
lebih cepat dari standar tersebut, terkadang bisa lama untuk penerbit-penerbit
minor atau indi karena ada beberapa persyaratan penyebarluasan yang harus
diikuti. 3). Tidak mungkin pak, karena saat pengajuan ISBN akan terdeteksi jika
terjadi duplikasi judul. Salah satu akan gugur, biasanya pengajuan yang
terakhir akan digugurkan
P
6. Selamat malam Bu Ros dan Pak Edi, Saya Elen, SD Candle Tree Serpong, Saya
"kepo" Tadi Pak Edi menyebutkan angka penjualan yang turun hingga
90%, toko buku sebagai outlet utama banyak yang tutup. Bagaimana Penerbit Mayor
bisa tetap survive dengan kondisi seperti itu? Terima kasih
Ini jawaban sama dengan di atas tadi ;
Penerbit mengalihkan jualannya ke jualan online, sehingga banyak market place
yang kami gunakan untuk menyalurkan produksi buku yang sudah tercetak. Saluran
pemerintah masih cukup kuat untuk menopang cash flow penerbit. Tentunya
penerbit yang mempunyai modal judul buku yang banyak, lebih mudah bertahan.
Kami mempunyai sekitar 50 ribu judul
terbit sehingga lebih leluasa memilih atau meramu judul buku untuk proyek
pemerintah.
Yang bertahan adalah penerbit yang
memang sudah mempunyai modal judul banyak, karena bisa masuk ke beberapa
saluran pemerintah. Tampaknya pemerintah konsisten untuk tetap belanja buku
selama masa pandemi, sehingga penerbit-penerbit yang koleksi judulnya banyak
masih bisa bertahan. Akan tetapi tidak semua penerbit bisa beruntung sperti
itu, banyak yang memang kemudian tutup, apalagi ada badai ISBN .. banyak
penerbit yang akhirnya menyerah.. karena kesulitan modal produksi buku.
P7. Nama : Atimah, Jakarta. Tadi
telah disampaikan oleh bapak karena cukup ketatnya kajian bisnis sebuah
buku,sehingga banyak buku yang tidak mampu dijual oleh penerbitnya lalu akan
dikembalikan ke penulisnya . Pertanyaannya : Bagaimanakah cara menyiasati
supaya buku kita laku terjual dan bisa diterima oleh penerbit, apakah ada trik
khusus dalam penulisan buku? Terimaaksih
Trik yang paling mujarab memang
Content is the king sehingga secara organik buku tersebut akan mandiri jualan
sendiri. Tapi memang seribu satu buku tersebut. Untuk mendongkrak penjualan
biasanya penulis dapat menggunakan jurus klise ATM - Amati Tiru Modifikas dari
buku-buku Best Seller Terus rajin menulis berbarengan, supaya nama kita bisa
nyangkut di Google, sehingga penerbit dapat meliriknya saat googling, karena
googling jejak digital calon penulis biasanya dilakukan oleh penerbit termasuk
kami. Trik gampang .. nama bapak ibu coba di google.. apakah menarik indeks
google atau tidak.. itulah jejak digital bapak ibu.

Ini
contohnya.. maaf sedikit narsis.. hanya untuk contoh saja bapak ibu.
P 8. Pertanyaan Bu Septi dari Wonosobo: Untuk lolos di percetakan mayor, minimal
berapa halaman dan maksimal berapa halaman, apakah ada ketentuan jumlah
halaman?
Menurut aturan UNESCO, ketebalan
halaman sebuah buku adalah 40 halaman. Akan tetapi penerbit tidak menggunakan
acuan tersebut, banyak buku anak 12 halaman yang laku. Buku 1000 halaman juga
bisa laku jika memang sangat dibutuhkan pembaca. Buku Farmakope jumlah
halamannya lebih dari 1000 akan tetapi banyak dicari oleh pembacanya yaitu
dokter, ahli obat, farmasi, rumah sakit, perawat dll. Jumlah halaman sebenarnya
bukan ketentuan utama karena variabel yang memengaruhi buku laku dan tidak
bukan hanya dari jumlah halaman saja. Untuk buku ajar, kami biasanya
mensyaratkan minimal harus 100 halaman, supaya punggung bukunya ada dan judul
buku terlihat.

ini
yang disebut punggung buku, Jumlah halaman 100 - 200 halaman, kisaran harga
buku adalah 50 - 150 ribu masih sesuai dengan kantong pembeli buku di Indonesia.
P 9. Saya Een BM 25, Saya tidak bertanya hanya
pernyataan. Bersyukur dengan adanya pandemi, seandainya tidak ada pandemi maka
pembelajaran tatap muka tetap berlangsung dan teknologi tidak berkembang pesat
seperti sekarang mengalahkan literasi manual bagi penulis pemula untuk memiliki
buku sendiri atau solo pasti masih susah untuk menerbitkannya karena para
penerbit masih banyak orderan. Seandainya sejak dahulu para penerbit menjemput bola tentu kami punya koleksi buku
yang lumayan banyak. Hehe. Terimakasih kepada para penerbit kini sudah terbuka,
"welcome" terutama pada penulis pemula .
Setuju sekali, Pandemi membawa
berkah penetrasi teknologi lebih cepat terjadi, sehingga kita bisa tergagap dan
tergopoh-gopoh menyongsongnya daripada terkaget ternyata kita tertinggal
jauh... Terimaskasih atas waktunya sehingga kita bisa saling sharing berbagi
pengalaman yang luar biasa ini. Alhamdulillah, semua pertanyaan sudah terjawab
dengan baik. Semoga tidak ada yang tertinggal.Terima kasih Pak Edi atas paparan
materi yang sangat istimewa ini.
Semoga Bapak/Ibu penulis hebat
yang tergabung dalam Kelas Belajar Menulis PGRI
dapat menjadi penulis buku Mayor .
Silakan memberikan closing statement, Pak Edi.
Pandemi tampak seperti ruang gelap
tidak ada celah, akan tetapi jika kita menengadah ke atas, ternyata masih ada
setitik cahaya yang dapat kita gunakan untuk penunjuk arah. Penerbit-penerbit
saat ini masih berjuang untuk hidup, sehingga calon-calon penulis tidak perlu
gundah karena tulisan bapak ibu pasti akan berlabuh .. jika kita tekun dan
tabah melihat cahaya petunjuk tersebut.. salam hormat dan sehat selalu. Terima
kasih, Pak. Mohon maaf jika ada kekurangan dalam mendampingi Bapak. Sama-sama
bu mohon maaf jika ada yang kurang berkenan ...
Bapak/Ibu hebat, hampir 2,5 jam
telah kita lewati bersama malam ini, dan kita pun harus mengakhiri pertemuan
ini. Untuk itu, marilah kita
ucapkan lafaz hamdalah. Terima kasih
telah belajar bersama, dan mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan dan ada
hal-hal yang kurang berkenan selama memandu Bapak/Ibu maupun dalam keseharian
kita di dunia maya. Akhir kata, Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Comments
Post a Comment